Cemburu. Dulu ketika masih ada kata “kami” aku sangat sering cemburu. Tapi dia kebalikannya. Mungkin hampir tidak pernah cemburu. Ehm, bukannya hampir tidak pernah, tapi aku hampir tidak pernah tahu jika dia cemburu, “untuk apa cemburu bilang-bilang. aku cemburu kok, tapi aku gak kasi tau kamu.” begitu katanya. Belakangan ketika dia cemburu dan bilang ke aku, aku senang sekali. Aku mikir dia pasti sayang banget sama aku. Tapi aku salah, salah melulu.
Semua yang dulu yang selalu aku idam-idamkan ketika kami long distance, sedikit demi sedikit terjadi. Dia pindah ke kotaku. Dia begini, begitu. Kami bahagia. Tapi ternyata itu hanyalah kode samar, bahwa semuanya akan segera berakhir. Kami yang aku idam-idamkan itu bukanlah ‘kami’ sesungguhnya yang dulunya bahagia. Ternyata itu tanda, semakin kami berubah, semakin kami menjauh. Semakin dekat waktunya kata ‘kami’ hilang. Dan sekarang, benar-benar hilang.
Tak ada waktu, tak ada kata untuk memperbaiki semuanya. Biarlah apa yang benar tetapi dipandang salah akan tetap dipandang seperti itu. Biarlah apa yang salah menjadi salah dan benar menjadi benar. Biarlah dia mencoba melupakan ‘kami’ dengan cara itu, dan aku dengan cari ini. Pahamku dan pahamnya tak akan pernah lagi menyatu seperti dulu, ketika aku dan dia memutuskan menyatu menjadi ‘kami’.
Jealousy, turning saints into the sea. Swimming through sick lullabies. Choking on my alibis.But it’s just the price he pay. Destiny is calling him. Open up his eager eyes.
Cause He’s Mr. Brightside.
Cause He’s Mr. Brightside.
(Mr. Brightside – The Killers)


No comments:
Post a Comment